Nama :
Epi Sanjaya
Kelas : 3EA14
Tugas: Softskill Konvensi Naskah
KONVENSI NASKAH
Konvensi
adalah suatu (seperti amalan, tingkah laku, ciri-ciri) yang sudah disepakati
dengan meluasnya dan dipatuhi. Naskah adalah suatu teks yang berisi aturan,
alur cerita di dalam suatu dialog. Maka yang dimaksud dengan konvensi naskah
adalah penulisan naskah karangan ilmiah yang berdasarkan kebiasaan, aturan yang
sudah lazim, dan sudah disepakati. Konvensi penulisan naskah yang sudah lazim
mencakup aturan pengetikan, pengorganisasian materi utama, pengorganisasian
materi pelengkap, bahasa, dan kelengkapan penulisan lainnya.
Dalam
pembuatan naskah yang harus memperhatikan struktur kalimat dan pilihan kata
(diksi) yang dibuat sedemikian rupa, sehingga apa yang ditulis itu jelas,
teratur dan menarik. Namun, ada hal yang lebih penting yaitu, sebuah karangan
yang menuntut suatu persyaratan lain yaitu persyaratan formal, bagaimana supaya
bentuk atau wajah dari karangan itu sehingga kelihatan tampak lebih indah dan
menarik. Persyaratan formal ini meliputi bagian-bagian pelengkap dan
kebiasaan-kebiasaan yang harus diikuti dalam dunia kepenulisan. Semua
persyaratan ini secara umum disebut dengan konvensi naskah.
Dari
segi persyaratan formal ini, dapat dibedakan lagi karya yang dilakukan secara
formal, semi-formal, dan non-formal. Yang dimaksud dengan formal adalah bahwa
suatu karya memenuhi semua persyaratan lahiriah yang dituntut oleh konvensi.
Sebaliknya, semi-formal yaitu bila sebuah karangan tidak memenuhi semua
persyaratan lahiriah yang dituntut konvensi. Sedangkan non-formal yaitu bila
bentuk sebuah karangan tidak memenuhi syarat-syarat formalnya.
Syarat
Formal Penulisan Sebuah Naskah
Dalam
menyusun sebuah karangan perlu pengorganisasian karangan. Pengorganisasian
karangan adalah penyusunan seluruh unsur karangan menjadi satu kesatuan
karangan berdasarkan persyaratan formal kebahasaan yang baik, benar, cermat,
logis, penguasaan, wawasan keilmuan bidang kajian yang ditulis secara memadai
dan format pengetikan yang sistematis. Persyaratan formal (bentuk lahiriah)
yang harus dipenuhi sebuah karya menyangkut tiga bagian utama, yaitu:
1.
Bagian pelengkap pendahuluan
2.
Isi karangan
3.
Bagian pelengkap penutup
Unsur-unsur
dalam Penulisan Sebuah Karangan:
1.
Bagian Pelengkap Pendahuluan
Bagian
ini dapat disebut juga sebagai halaman pendahuluan yang sama sekali tidak
menyangkut isi karangan. Tetapi bagian ini harus disiapkan sebagai bahan
informasi bagi para pembaca dan sekaligus berfungsi menampilkan karangan itu
dalam bentuk yang kelihatan lebih menarik.
a.
Judul Pendahuluan (Judul Sampul) dan Halaman Judul
Judul
pendahuluan adalah nama karangan. Halaman ini tidak mengandung apa-apa kecuali
mencantumkan judul karangan atau judul buku. Judul karangan atau judul buku
ditulis dengan huruf kapital. Biasanya letaknya di tengah halaman agak ke atas.
Namun, variasi-variasi lain memang kerap sekali dijumpai.
Dalam
pembuatan sebuah makalah atau skripsi, halaman judul mencantumkan nama
karangan, penjelasan adanya tugas, nama pengarang (penyusun), kelengkapan
identitas pengarang (nomor induk/registrasi, kelas, nomor absen), nama unit
studi (unit kerja), nama lembaga (jurusan, fakultas, unversitas), nama kota,
dan tahun penulisan.
Unsur-unsur
penulisan Judul sebagai berikut:
1)
Judul menggambarkan keseluruhan isi karangan.
2)
Judul harus menarik pembaca baik makna maupun penulisannya.
3)
Sampul: nama karangan, penulis, dan penerbit.
4)
Halaman judul: nama karangan, penjelasan adanya tugas, penulis, kelengkapan
identitas pengarang, nama unit studi, nama lembaga, nama kota, dan tahun
penulisan (dalam pembuatan makalah atau skripsi).
5)
Seluruh frasa ditulis pada posisi tengah secara simetri (untuk karangan
formal), atau model lurus pada margin kiri (untuk karangan yang tidak terlalu
formal).
Hal-hal
yang harus dihindarkan dalam halaman judul karangan formal:
1)
Komposisi tidak menarik.
2)
Tidak estetik.
3)
Hiasan gambar tidak relevan.
4)
Variasi huruf jenis huruf.
5)
Kata “ditulis (disusun) oleh.”
6)
Kata “NIM/NRP.”
7)
Hiasan, tanda-tanda, atau garis yang tidak berfungsi.
8)
Kata-kata yang berisi slogan.
9)
Ungkapan emosional.
10)
Menuliskan kata-kata atau kalimat yang tidak berfungsi.
b.
Halaman Persembahan (kalau ada)
Bagian
ini tidak terlalu penting. Bila penulis ingin memasukan bagian ini, maka hal
itu semata-mata dibuat atas pertimbangan penulis. Persembahan ini jarang
melebihi satu halaman, dan biasanya terdiri dari beberapa kata saja, misalnya :
Kutulis
novel ini dengan cahaya cinta
untuk
mahar menyunting belahan jiwa,
Muyasaratun
Sa’idah binti KH. Muslim Djawahir, alm.
Rabbana
hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa
Qurrata
a’yuni waj’alnaa lil muttaqiina imaama. Amin.[3]
Bila
penulis menganggap perlu memasukkan persembahan ini, maka persembahan ini
ditempatkan berhadapan dengan halaman belakang judul buku, atau berhadapan
dengan halaman belakang cover buku, atau juga menyatu dengan halaman judul
buku.
c.
Halaman Pengesahan (kalau ada)
Halaman
ini harus disiapkan untuk sebuah Tugas Akhir (TA), skripsi, tesis dan lain
sebagainya. Karena digunakan sebagai pembuktian bahwa karya ilmiah yang telah
ditanda-tangani oleh pembimbing, pembaca/penguji, dan ketua jurusan telah
memenuhi persyaratan administratif sebagai karya ilmiah. Penyusunan pengesahan
ditulis dengan memperhatikan persyaratan formal urutan dan tata letak
unsur-unsur yang harus tertulis di dalamnya.
Hal-hal
yang harus dihindarkan :
1)
Menggaris-bawahi nama dan kata-kata lainnya.
2)
Menggunakan titik atau koma pada akhir nama.
3)
Tulisan melampaui garis tepi.
4)
Menulis nama tidak lengkap.
5)
Menggunakan huruf yang tidak standar.
6)
Tidak mencantumkan gelar akademis.
d.
Kata Pengantar
Sering
terdapat dua istilah yang saling bertukar penggunaannya yaitu Kata Pengantar
dan Kata Pendahuluan atau Pendahuluan. Sebaiknya penggunaan kedua istilah itu
dibedakan. Kata Pengantar sebaiknya dipergunakan untuk bagian ini, sedangkan
Pendahuluan dipergunakan untuk menyebut bagian awal dari isi karangan.
Kata
pengantar adalah bagian karangan yang berisi penjelasan dari keseluruhan karya
ilmiah yang sifatnya formal dan ilmiah. Oleh karena itu, kata pengantar harus ditulis
dengan Bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar. Isi kata pengantar tidak
menyajikan isi karangan, atau hal-hal lain yang tertulis dalam pendahuluan,
tubuh karangan, dan kesimpulan. Sebaliknya, apa yang sudah tertulis dalam kata
pengantar tidak ditulis ulang dalam isi karangan.
Di dalamnya disajikan informasi sebagai berikut :
1)
Ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2)
Penjelasan adanya tugas penulisan karya ilmiah (untuk skripsi, tesis,
disertasi, atau laporan formal ilmiah).
3)
Penjelasan pelaksanaan penulisan karya ilmiah (untuk skripsi, tesis, disertasi,
atau laporan formal ilmiah).
4)
Penjelasan adanya bantuan, bimbingan, dan arahan dari seseorang, sekolompok
orang, atau organisasi/lembaga.
5)
Ucapan terima kasih kepada seseorang, sekolompok orang, atau organisasi/lembaga
yang membantu.
6)
Penyebutan nama kota, tanggal, bulan, tahun, dan nama lengkap penulis, tanpa
dibubuhi tanda-tangan.
7)
Harapan penulis atas karangan tersebut.
8)
Manfaat bagi pembaca serta kesediaan menerima kritik dan saran.
Hal-hal
yang harus dihindarkan :
1)
Menguraikan isi karangan.
2)
Mengungkapkan perasaan berlebihan.
3)
Menyalahi kaidah bahasa.
4)
Menunjukkan sikap kurang percaya diri.
5)
Kurang meyakinkan.
6)
Kata pengantar terlalu panjang.
7)
Menulis kata pengantar semacam sambutan.
8)
Kesalahan bahasa : ejaan, kalimat, paragraf, diksi, dan tanda baca tidak
efektif.
e.
Daftar Isi
Daftar
isi berfungsi untuk merujuk nomor halaman judul bab, sub-bab, dan unsur- unsur
pelengkap dari sebuah buku yang bersangkutan. Daftar isi disusun secara
konsisten baik penomoran, penulisan, maupun tata letak judul bab dan judul
sub-sub bab. Konsistensi ini dipengaruhi oleh bentuk yang digunakan.
f.
Daftar Gambar (kalau ada)
Bila
dalam buku itu terdapat gambar-gambar, maka setiap gambar yang tercantum dalam
karangan harus tertulis didalam daftar gambar. Daftar gambar menginformasikan:
judul gambar dan nomor halaman.
g.
Daftar Tabel (kalau ada)
Bila
dalam buku itu terdapat tabel-tabel, maka setiap tabel yang tertulis dalam
karangan harus tercantum dalam daftar tabel. Daftar tabel ini menginformasikan:
nama tabel dan nomor halaman.
2.
Bagian Isi Karangan
Bagian
isi karangan sebenarnya merupakan inti dari karangan atau buku; atau secara
singkat dapat dikatakan karangan atau buku itu sendiri.
a.
Pendahuluan
Tujuan
utama pendahuluan adalah menarik perhatian pembaca, memusatkan perhatian
pembaca terhadap masalah yang dibicarakan, dan menunjukkan dasar yang
sebenarnya dari uraian itu. Unsur-unsur pendahuluan :
1)
Latar belakang masalah, menyajikan :
a)
Penalaran (alasan) yang menimbulkan masalah
b)
Kegunaan praktis hasil analisis (memberikan masukan bagi kebijakan dalam
keputusan)
c)
Pengetahuan tentang studi kepustakaan
d)
Pengungkapan masalah utama secara jelas dalam bentuk pertanyaan
e)
Tidak menggunakan kata apa karena tidak menuntut adanya analisis, cukup
dijawab dengan ya atau
2)
Tujuan penulisan berisi :
a)
Target, sasaran, atau upaya yang hendak dicapai
b)
Upaya pokok yang harus dilakukan
c)
Tujuan utama yang dirinci menjadi beberapa tujuan sesuai dengan masalah yang
dibahas.
3)
Ruang lingkup masalah berisi :
a)
Pembatasan masalah yang akan dibahas.
b)
Rumusan detail masalah yang akan dibahas.
c)
Definisi atau batasan pengertian istilah
4)
Landasan teori menyajikan :
a)
Deskripsi atau kajian teoritik
b)
Penjelasan hubungan teori dengan kerangka
5)
Sumber data penulisan berisi :
a)
Sumber data sekunder dan data primer.
b)
Kriteria penentuan jumlah data.
c)
Kriteria penentuan mutu data.
d)
Kriteria penentuan sample.
e)
Kesesuaian data dengan sifat dan tujuan pembahasan.
6)
Metode dan teknik penulisan berisi :
a)
Penjelasan metode yang digunakan dalam pembahasan
b)
Teknik penulisan menyajikan cara pengumpulan data seperti wawancara, observasi,
dan kuisioner; analisis data, hasil analisis data, dan kesimpulan.
7)
Sistematika penulisan berisi :
a)
Gambaran singkat penyajian isi pendahuluan, pembahasan utama, dan kesimpulan.
b)
Penjelasan lambang-lambang, simbol-simbol, atau kode (kalau ada).
b.
Tubuh Karangan
Tubuh
karangan atau bagian utama karangan merupakan inti karangan berisi sajian
pembahasan masalah. Bagian ini menguraikan seluruh masalah yang dirumuskan pada
pendahuluan secara tuntas (sempurna). Di sinilah terletak segala masalah yang
akan dibahas secara sistematis. Kesempurnaan pembahasan diukur berdasarkan
kelengkapan unsur-unsur berikut ini :
1)
Ketuntasan materi :
Materi
yang dibahas mencakup seluruh variabel yang tertulis pada kalimat tesis, baik
pembahasan yang berupa data sekunder (kajian teoretik) maupun data primer.
Pembahasan data primer harus menyertakan pembuktian secara logika, fakta yang
telah dianalisis atau diuji kebenarannya, contoh-contoh, dan pembuktian lain
yang dapat mendukung ketuntasan pembenaran.
2)
Kejelasan uraian/ deskripsi :
a)
Kejelasan konsep (keseluruhan pikiran yang terorganisasi secara utuh, jelas,
dan tuntas dalam suatu kesatuan makna).
b)
Kejelasan bahasa (ketepatan pilihan kata yang dapat diukur kebenarannya).
c)
Kejelasan penyajian dan fakta kebenaran fakta
3)
Hal-hal lain yang harus dihindarkan dalam penulisan karangan (ilmiah) :
a)
Subjektivitas dengan menggunakan kata-kata : saya pikir, saya rasa, menurut
pengalaman saya, dan lain-lain. Atasi subjektivitas ini dengan menggunakan:
penelitian membuktikan bahwa…, uji laboratorium membuktikan bahwa…, survei
membuktikan bahwa…,
b)
Kesalahan : pembuktian pendapat tidak mencukupi, penolakan konsep tanpa alasan
yang cukup, salah nalar, penjelasan tidak tuntas, alur pikir (dari topik sampai
dengan simpulan) tidak konsisten, pembuktian dengan prasangka atau berdasarkan
kepentingan pribadi, pengungkapan maksud yang tidak jelas arahnya, definisi
variabel tidak (kurang) operasional, proposisi yang dikembangkan tidak jelas,
terlalu panjang, atau bias, uraian tidak sesuai dengan judul
4)
Kesimpulan
Kesimpulan
atau simpulan merupakan bagian terakhir atau penutup dari isi karangan, dan
juga merupakan bagian terpenting sebuah karangan ilmiah. Pembaca yang tidak
memiliki cukup waktu untuk membaca naskah seutuhnya cenderung akan membaca bagian-bagian
penting saja, antara lain kesimpulan. Oleh karena itu, kesimpulan harus disusun
sebaik mungkin. Kesimpulan harus dirumuskan dengan tegas sebagai suatu pendapat
pengarang atau penulis terhadap masalah yang telah diuraikan.
Penulis
dapat merumuskan kesimpulannya dengan dua cara :
a)
Dalam tulisan-tulisan yang bersifat argumentatif, dapat dibuat
ringkasan-ringkasan argumen yang penting dalam bentuk dalil-dalil (atau
tesis-tesis), sejalan dengan perkembangan dalam tubuh karangan itu.
b)
Untuk kesimpulan-kesimpulan biasa, cukup disarikan tujuan atau isi yang umum
dari pokok-pokok yang telah diuraikan dalam tubuh karangan itu
3.
Bagian Pelengkap Penutup
a.
Daftar Pustaka (Bibliografi)
Setiap
karangan ilmiah harus menggunakan data pustaka atau catatan kaki dan dilengkapi
dengan daftar bacaan. Daftar pustaka (bibliografi) adalah daftar yang berisi
judul buku, artikel, dan bahan penerbitan lainnya yang mempunyai pertalian
dengan sebuah atau sebagian karangan.
Unsur-unsur
daftar pustaka meliputi :
1)
Nama pengarang: penulisannya dibalik dengan menggunakan koma.
2)
Tahun terbit.
3)
Judul buku: penulisannya bercetak miring.
4)
Data publikasi, meliputi tempat/kota terbit, dan penerbit.
5)
Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel, nama majalah, jilid, nomor,
dan tahun terbit.
Keterangan
:
1)
Jika buku itu disusun oleh dua pengarang, nama pengarang kedua tidak perlu
dibalik.
2)
Jika buku itu disusun oleh lembaga, nama lembaga itu yang dipakai untuk
menggantikan nama pengarang.
3)
Jika buku itu merupakan editorial (bunga rampai), nama editor yang dipakai dan
di belakangnya diberi keterangan ed. ‘editor’
4)
Nama gelar pengarang lazimnya tidak dituliskan.
5)
Daftar pustaka disusun secara alfabetis berdasarkan urutan huruf awal nama
belakang pengarang.
b.
Lampiran (Apendix)
Lampiran
(apendix) merupakan suatu bagian pelengkap yang fungsinya terkadang tumpang
tindih dengan catatan kaki. Bila penulis ingin memasukan suatu bahan informasi
secara panjang lebar, atau sesuatu informasi yang baru, maka dapat dimasukkan
dalam lampiran ini. Lampiran ini dapat berupa esai, cerita, daftar nama, model
analisis, dan lain-lain. Lampiran ini disertakan sebagai bagian dari pembuktian
ilmiah. Penyajian dalam bentuk lampiran agar tidak mengganggu pembahasan jika
disertakan dalam uraian.
c.
Indeks
Indeks
adalah daftar kata atau istilah yang digunakan dalam uraian dan disusun secara
alfabetis (urut abjad). Penulisan indeks disertai nomor halaman yang
mencantumkan penggunaan istilah tersebut. Indeks berfungsi untuk memudahkan
pencarian kata dan penggunaannya dalam pembahasan.
d.
Riwayat Hidup Penulis
Buku,
skripsi, tesis, disertasi perlu disertai daftar riwayat hidup. Dalam skripsi
menuntut daftar RHP lebih lengkap. Daftar riwayat hidup merupakan gambaran kehidupan
penulis atau pengarang. Daftar riwayat hidup meliputi: nama penulis, tempat
tanggal lahir, pendidikan, pengalaman berorganisasi atau pekerjaan, dan
karya-karya yang telah dihasilkan oleh penulis.
DAFTAR PUSTAKA